Pertama, manusia bodoh, yakni mereka yang selalu melalaikan dan mengesampingkan setiap kesempatan yang ada.
Kedua, manusia baik, yakni mereka yang selalu mengambil kesempatan yang datang kepadanya.
ketiga, manusia bijak, yakni mereka yang selalu mencari kesempatan yang memungkinkan dirinya untuk terus berkembang tanpa harus menunggu.
Lantas, dimanakah kesempatan itu? diluar atau didalam diri?
kesempatan sebenarnya bukan berada diluar diri manusia. Kesempatan yang hakikijustru berada dalam diri individu tersebut.Artinya, respon kita terhadap peristiwa yang terjadi, akan menggiring pemaknaan pada kitaapak itu kesempatan atau bukan.
Proses pemaknaan dan mengambil kesempatan atau peluang tidak semata-mata ditentukan oleh jenjang pendidikan atau jabatan, melainkan melalui cara kita memandang. Oleh karena itu, dalam kenyataanya ada dua jenis manusia yang dapat memaknai fenomena yang ada sebagai suatu kesempatan, yakni opportunist atau adventurer.
Disebut opportunist manakala orang-orang tersebut memanfaatkan kesempatan dengan niat yang tidak tulus, bahkan cenderung mengorbankan orang lain. Sebagai contoh kongkrit, ada banyak peristiwa dimana orang memanfaatkan kesempatan untuk menjarah barang-barang orang yang mengalami kecelakaan, sementara si pemilik sedang sekarat.
Sebaliknya, mereka yang mampu memanfaatkan kejadian yang ada sebagai sarana untuk membangun dirinya dan orang lain bahkan tempat bekerjanya mereka itulah yang disebut kaum adventurer. Mereka bahkan melihat apa yang tidak mungkin dimata orang lain menjadi mungkin. Ada pepatah didunia keirausahaan yang mengatakan "Ribuan orang melihat apel jatuh, namun hanya Isaac Newton yang berkata : mengapa?"
Kehadiran kaum adventurer ditengah-tengah lingkungan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain untuk mengembangn potensi. mereka tidak segan-segan berbagi kepada orang lain, tanpa rasa takut tersaingi atau popularitasnya akan hancur. Mereka tahu bahwa semakin banyak memberi inspirasi semakin peka pula intiusinya dalam melihat kejadian sebagai suatu kesempatan.
Kejadian boleh sama, perubahan yang terjadi dilinkungan kitapun mungkin sama. Akan tetapi untuk menjadi opportunist ataupun adventurer adalah suatu pilihan. Mari kita menjadi kaum adventurer yang memiliki pikiran selangkah lebih maju dari setiap kejadian. One stop Ahead!
sumber : Setengah isi Setengah kosong-nya Parlindungan Marpaung
Kesempatan
Selasa, 03 Februari 2009Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: renungan
(mungkin juga) salah kita
Minggu, 01 Februari 2009Macet!. Jakarta gak lepas dari fenomena itu. Setiap hari, entah pagi, siang ataupun malam. Banyak hal penyebabnya. Ketika macet terjadi, sering kita menggerutu, "wah, ini pasti angkot/bus yang berheneti sembarangan nih", "ini karena pengendara motor yang ugal-ugalan nih". Tapi sadarkah kita, kalau kita tarik ke belakang, macet ini mungkin juga salah kita. Kita yang enggan berjalan sekian ratus meter menuju halte, kita yang lebih senang berdiri diperempatan menunggu angkutan. Atau bagi kita yang naik motor, karena enggan memutar jalan yang agak jauh, kita akhirnya berbalik di tempat yang seharusnya dilarang.
Pun demikian dengan banjir. (mungkin juga) salah kita!. Kita yang enggan membuang sampah pada tempatnya, kita yang enggan mebersihkan lingkungan kita, dan kita yang merasa cukup bangga dengan kehidupan kita tanpa memperhatikan lingkungan sekitar kita.
Mungkin kita berpikir, "apalah artinya kalau cuma saya ini, tidak akan efeknya terhadap kemacetan ataupun banjir yang ada". tapi sadarkah kita, jika semua orang berpikiran yang sama, bukankah itu mungkin terjadi?. Alkisah pada jaman kekhalifahan (saya lupa namanya), bahwa setiap kepala keluarga yang ada diwajibkan mengumpulkan satu sendok madu dalam suatu bejana. Dalam fikiran seorang kepala keluarga, karena enggan menyerahkan madu, akhirnya dia gantikan madu itu dengan air. dia berpikir, "toh khalifah tidak akan tau kalau saya tidak menyerahkan madu, yang penting saya terlihat membawa sendok berisi dan menumpahkannya ke bejana itu". Tapi apa yang kemudian terjadi? Semua ternya berpikiran sama dan yang terkumpul bukanlah madu tapi air!.
Teman, semoga kisah singkat diatas mampu menjadi kaca buat diri kita.
Apakah selama ini kita berbuat demikian?
Manusia tidaklah sempurna, pasti memiliki kesalahan. Tapi manusia yang cerdas, salah satunya adalah manusia yang mampu belajar dari masa lalunya, agar di kehidupan mendatangnya menjadi lebih baik.
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: renungan
Setengah Isi Setengah Kosong
Jumat, 16 Januari 2009
Seorang staf muda bagian promosi produk pakaian dalam wanita diminta oleh pimpinannya untuk melakukan survey pasar dilokasi suku pedalaman. Hal ini dilakukan untuk melihat kemungkinan ekspansi di sana. Hari pertama di lokasi membuatnya frustasi karena melihat hampir semua wanita suku pedalaman itu tidak menggunakan pakaian, apalagi pakaian dalam. “Tidak mungkin melakukan ekspansi ke tempat ini!”, katanya mantap, lalu iapun pulang ke kantor pusatnya.
Si pimpinan tidak percaya dan mengirim staf muda lainnya untuk mencari pendapat kedua. Begitu tiba dilokasi, si staf muda tadi langsung terperangah menyaksikan ada banyak wanita suku pedalaman tidak mengenakan pakaian dalam. “Ini kesempatan emas, justru dengan ekspansi pasar membuat mereka semakin beradab!”, sergahnya dengan penuh optimisme. Iapun segera menghubungi kantor pusatnya menginformasikan bahwa ada ladang baru yang harus digarap.
Dua orang yang berbeda, namun dari latar belakan perusahaan yang sama dan melihat situasi yang sama, namun memiliki cara pandang yang berbeda. Satu optimis dan yang lainnya pesimis. Perubahan situasi pasar dan lingkungan bisnis membuat setiap individu meresponi dengan cara yang berbeda pula.
Mutasi yang mendadak dari kantor pusat ke daerah, terkadang memunculkan pikiran bahwa ini adalah akhir dari segala-galanya. Pengalihan tugas ke tempat atau unit kerja tertentu, terkadang membuat kita mengklaim diri sedang dibuang. Bahkan ketika memasuki usia pensiun, sering direspon sebagai malapetaka yang besar, karena ada bagian dari dirinya yang telah hilang sama sekali. Pergumulan hidup apapun yang dialami manusia (maupun perusahaan) acapkali dimaknakan sebagi sisi gelap dari perjalanan karir dan kehidupan seseorang. Padahal pepatah bijak menyebutkan, “bukan peristiwanya yang penting, melainkan bagaimana cara kita merespon peristiwa yang terjadi tersebut yang akan menentukan kualitas diri kita”.
Satu ilustrasi dalam pelatihan motivasi yang lazim dan sering dilakukan adalah dengan mengambil sebuah gelas yang setengahnya berisi air. Setiap orang diminta untuk mengatakan apa yang dilihatnya. Sebagian mengatakan gelas itu setengah kosong dan sebagian lagi melihat gelas tersebut setengah masih berisi. Dilihat dari ‘kebenaran’ berdasarkan fakta, kedua jawaban tersebut benar. Dibalik itu semua, yang menarik adalah cara pandangnya. Coba kita perhatikan dengan seksama, mereka yang mengatakan gelas tersebut setengah kosong mengilustrasikan bahwa cara pandang yang pesimis, sedangkan yang melihat gelas tersebut setengah masih ada isinya, bahkan dengan semangat mengatakan “masih ada setengah lagi, Pak!” mengiulustrasikan cara pandang yang positif (optimis).
Ilustrasi ini dapat kita rasakan sebagai contoh ketika jam kerja menunjukkan pada pukul 15.45 WIB, dan kita diminta untuk melakukan pekerjaan tertentu. Sebagian orang dapat saja mengatakan, “Ah, tanggunglah, besok saja. Sebentar lagi juga pulang!”
Sebagian lagi justru mengatakan yang sebaliknya, “Mari saya kerjakan, mumpung masih ada waktu 15 menit lagi. Besok kita punya pekerjaan lain!”
Waktunya sama, namun cara kita memandang untuk bersikap terhadap waktu yang sisa 15 menit itu tersebut tentu berbeda-beda.
Di lain pihak, dari sisi bisnis, tentu setiap orangpun dapat melihat dari cara pandang yang berbeda terhadap situasi yang melanda perusahaan. Perkembangan perusahaan bisa bertahan (survive) dan bertumbuh (growth) atau tidak, juga bergantung bagaimana karyawan memandangnya.
Dalam kehidupan antar pegawaipun demikian. Cara kita memandang orang lain akan sangat mempengaruhi bagaimana hubungan kita dengan orang tersebut selanjutnya. Ada saja orang yang berkutat pada sisi negatif oranglain dibandingkan potensi-potensi yang masih dimilikinya. Masih ada juga segelintir orang yang lebih suka menceritakan “gelas kosong” orang lain daripada “gelas isi” dirinya. Para ahli mengatakan bahwa cara pandang ini, sangat besar dipengaruhi oleh apa yang masuk melalui pikiran. Baik itu melalui media bacaan, tontonan, maupun hasil perbincangan dengan orang lain, juga system pola asuh dirumah. Menariknya lagi, cara pandang ini tidak ada hubungannya dengan gelar yang disandang, pangkat, jabatan serta kekayaan seseorang. Semua hal ini semata-mata tergantung daripada kualitas mental seseorang.
Bagaimana “gelas” keluarga kita saat ini, bagaimana “gelas” perjalanan karir kita selama menatapi jalan-jalan menuju ke kantor, bagaimana pula “gelas” perusahaan dalam perkembangan terakhirnya. Semua tentu tidak ada yang penuh, dan pasti ada bagian-bagian yang kosong. Satu langkah yang penting untuk melaluinya dengan efektif adalah dengan memaknainya pada sisi yang masih terisi. Melalui pemaknaan yang demikianlah kita akan mampu berbuat kreatif dan berbuat banyak bagi perusahaan, keluarga, dan diri sendiri.
John Wesley pernah bertutur, “lakukan yang terbaik yang bisa Anda lakukan, dengan segenap kemampuan, dengan cara apapun, dimanapun, kapanpun, kepada siapapun sampai Anda tidak mampu lagi melakukannya”.
Sumber : Buku Setengah Isi Setengah Kosong-nya Parlindungan Marpaung
Terinspirasi saat di rolling pindah tempat tugas
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 3 komentar
Label: renungan
Jakarta Banjir
Rabu, 14 Januari 2009Sudah beberapa hari ini, Jakarta diguyur hujan. Mungkin tidak terlalu deras, tapi dengan intesitasnya yang sering tak ayal membuat beberapa tempat yang biasanya memang menjadi langganan banjir menjadi tergenang air.
Banjir, seolah menjadi sesuatu yang biasa terjadi disini. Bukan sedikit upaya yang dilakukan pemda Jakarta, tapi apa daya banjir tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Entah pemdanya yang tidak serius mengurusi ini atau mungkin sengaja membiarkan ini terjadi agar senantiasa ada proyek-proyek yang berkaitan dengan penanggulangan banjir, sehingga ada dana untuk itu dan uangnya bisa di 'sunat' lagi, tapi semoga saja itu tidak terjadi.
Banjir sebenarnya juga bukan hanya masalah pemda. Inipun perlu bantuan dari semua pihak, termasuk kesadaran kita sebagai masyarakat agar menjaga lingkungan kita. Jalan termudah mungkin dengan tidak membuang sampah disembarang tempat serta mengurangi pemakaian bahan-bahan berbahan plastik yang notabene susah untuk diurai tanah. Sampah yang dibuang sembarangan telah turut berandil besar dalam masalah banjir. Coba tengok pintu-pintu air ketika terjadi banjir. Pasti yang terkumpul disana adalah sampah.
Tidak hanya itu, terjadinya pendangkalan di sungai-sungai di Jakarta pun akibat sampah! bukan hanya di Jakarta di daerah hulupun demikian, sehingga sampahnya hingga sampai Jakarta. Jika kita menyadari itu mungkin banjir bisa sedikit demi sedikit menjadi tidak ada. Sekali lagi, tapi... masyarakat kita sepertinya sengaja (sepertinya membudaya), mereka sebenarnya mengetahui apa manfaat dan bahayanya, tapi tetap aja 'ngeyel' dan terus melakukan hal tersebut.
Kesadaran dalam hal persampahan ini nampaknya perlu terus kita gaungkan, sehingga mencegah banjir tak lagi menjadi agenda rutin kegiatan kita jika musim hujan telah tiba, semoga...
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: kisah
Aku dan Istriku
Selasa, 06 Januari 2009
Pernikahanku dengan seseorang yang menjadi istriku saat ini, merupakan sebuah anugerah yang sangat indah dalam perjalanan kehidupanku. Betapa bersyukurnya diriku, memiliki istri yang taat, sabar, cerdas, penyayang, dan pengertian.
Bagiku, pernikahan merupakan suatu pintu gerbang guna meraih suatu keberkahan yang lebih besar. Bukankah dengan menikah kita telah menyempurnakan separuh dari dien kita? Kalau menurutku, pengertian dari kalimat ini adalah jika kita mampu membina keluarga dengan baik, sakinah, mawaddah warahmah, maka nilainya akan dua kali lipat ganjarannya disisi Allah SWT.
Namun, setiap ibadah nampaknya memerlukan pengorbanan. Pun begitupula dengan diriku. Setelah menikah, 1 minggu berikutnya aku harus meninggalkan istriku tercinta demi tugas negara (kayaknya nasionalis banget yak, tapi ini memang kenyataan!! Aku dipindahkan ke Jakarta sementara istriku masih di Manado). Mau tidak mau, aku harus menjalani kehidupan baru disebuah kota besar dengan sendiri, tanpa istri disisiku.
Awal-awal belum terasa berat bagiku menjalani kehidupan seperti itu. Namun lambat laun, hal ini pun berpengaruh besar dalam kehidupanku. Akhirnya istriku sempat menamaniku selama kurang lebih 2 bulan. Setelah itu, kami harus kembali berpisah untuk waktu minimal 1 tahun, karena istriku ingin mengabdikan diri pada masyarakat sesuai bidang tugasnya sebagai dokter. Dia kembali ke Sulawesi Utara untuk melaksanakan PTT disana.
Sedih, pilu sudah tidak terbilang. Tapi bagi kami, ini mungkin yang terbaik sebelum semuanya menjadi bertambah berat. Banyak orang bertanya kepadaku, kok bisa ya aku seperti itu?. Selalu aku jawab, bahwa aku bisa karena istriku juga bisa dan selalu memberi support padaku.
Kini, setelah ia menyelesaikan PTT-nya, ia akan berkumpul bersamaku lagi. Aku bahagia karena paling tidak, aku tidak sendiri lagi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Do'akan kami agar mampu menjalani kehidupan ini. Do'akan kami agar kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Amin...
Ya Rabb... dengan kuasaMulah semua ini berjalan, dengan kehendakMulah semua ini ada, maka berkahilah dan rahmatilah kami, tunjukkanlah kepada kami jalan ridho-Mu... amin...
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: kisah
Kita Memang Beda
Jumat, 02 Januari 2009
Tiada satu manusiapun yang sama. Allah, dengan kuasa-Nya, telah menciptakan manusia berbeda-beda. Jika semuanya sama, maka takkan ada lagi orang miskin dan orang kaya, orang tampan dan orang jelek, orang pintar dan orang obodoh serta lain-lainnya.
Kenapa harus demikian?
Kalau menurutku sih, agar manusia itu saling mengenal, mengerti dan kemudian memahami dirinya. Bahwa tidak semua yang ada pada dirinya itu kemudian menjadi baik. Bahwa dia juga memiliki kekurangan-kekurangan.
Lantas?
Jika memang dirinya sadar, maka dia akan mencoba menggali potensi yang ada pada dirinya. Mencari sesuatu agar membuat dirinya menjadi lebih baik, yang pada akhirnya pada kehidupan bersosialnya, ia akan mudah membaur, mudah untuk menjalin sinergi dengan yang lainnya.
Adalah fatal, jika kemudian dia menjadi merasa minder dan rendah diri atas kekurangannya.
Yang harus diingat oleh orang-orang seperti ini adalah bahwa dibalik kekurangan yang Allah berikan pada dirinya, ada kelebihan pula untuk dirinya yang Allah limpahkan.
Wallahu'alam bi shawab...
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: renungan
Tahun Baru Harapan Baru
Kamis, 01 Januari 2009
Hm..., tadi malam saya tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana tidak, dalam rangka menyambut tahun baru 2009, tidak jauh dari tempat kost ngadain organ tunggal. Otomatis, suaranya yang super kenceng sangat mengganggu orang-orang sekitar yang ingin istirahat. Mana lagunya dangdut semua, dah gitu yang nyanyi suaranya pas-pasan, bikin tambah boring deh. Mending aku aja yang nyanyi yak, hehehe (maap agak narsis dikit gak papa kan???). Eh lha kok malah ngomongin itu, sori kawan, yang ingin saya bicarakan sebenarnya bukan itu, hehehe.
Begini ceritanya (halah...)
Saya masih ingat ketika tiba-tiba ada namaku di skep yang dikeluarkan oleh DJBC, tempat diriku bekerja. Saat itu tanggal 05 April 2007. Sebagian besar nama-nama yang ada di SKEP tersebut dipindahkan ke Tj. Priok, yang katanya akan dibuat sebuah Kantor Pelayanan Utama. Saat itu sebagian besar teman-teman senang. Bukan apa-apa, tapi melainkan adanya harapan baru. Dengan tunjangan yang baru (seperti yang sudah disampaikan pada saat training yang besarnya sangat besar untuk ukuran kami pada saat itu) .
Dengan saat semangat dan karena memang harus segera melapor (tanggal 09 April 2007), mereka berangkat semua. Saya tidak termasuk yang berangkat tersebut. Karena tanggal 15 April 2007 saya akan menikah. Tadinya sudah mau melapor dulu, tapi mengingat biaya yang lumayan besar, akhirnya melalui kepala kantor Bitung saat itu, saya meminta dispensasi kepada kasubag kepegawaian kanwil Jakarta untuk datang terlambat. Dan saya diijinkan.
Mungkin sedikit lebih beruntung saya, karena teman-teman yang sudah berangkat ternyata juga tidak langsung ditempatkan. Mereka masih 'lontang-lantung' selama kurang lebih satu minggu tanpa ada penempatan yang jelas. Melalui seorang teman, saya terus pantau penempatan saya nantinya.
Akhirnya, pada tanggal 22 April 2007 saya tiba di Jakarta. Saya tinggalkan istri tercinta, guna memenuhi panggilan tugas. Pada saat itu saya langsung melapor dan langsung di perbantukan di KPBC priok II dibagian penerimaan dokumen hijau. Hingga akhirnya tanggal 01 Juli 2007 seluruh KPBC Priok di merger menjadi KPU, saya masih disitu bahkan hingga saat ini (Kabar terakhir akan saya dipindahkan kebagian dokumen reject, tapi nota dinasnya belum ditandatangani).
Bukan masalah penempatan saya yang menjadi pokok tulisan ini. Melainkan apa yang saya rasakan, perasaan kami umumnya, para pegawai KPU BC Tj Priok.
Awalnya, kami yang dengan semangat (karena sebagian besar masih muda) menapaki kehidupan di Jakarta agar lebih baik. Seperti yang saya ceritakan diatas, bahwa dengan masuk KPU, tunjangan kami akan lebih baik, lebih besar, jika dibandingkan yang non KPU.
KPU Tj. Priok merupakan pilot project dari DJBC dalam hal perubahan kinerja dan citra. Depkeu dalam hal ini DJBC ingin mereformasi diri agar menjadi lebih baik. Agar image masyarakat terhadap Bea Cukai akan berubah. Image masyarakat adalah DJBC tempat basah. Tempat yang dengan mudah mendapatkan uang. Kebanyakan sih dari uang trima kasih katanya. Dan dengan penambahan tunjangan maka para pegawai diharapkan tidak lagi menerima uang-uang tersebut. Itu salah satu tujuan awalnya dibentuknya KPU (katanya si..., lha wong saya cuma di kasih tau saat training aja).
Kembali dengan teman-teman saya tadi. Awalnya banyak yang mendukung namun tak sedikit pula yang pesimis Bea Cukai bisa. Sebagian besar mereka adalah pendatang, yang anak istrinya di kampung, sudah membuat rencana-rencana tentang pendapatan mereka di KPU. Berapa yang harus mereka sisihkan untuk keluarga di kampung, berapa untuk biaya hidup dan lain-lain. Nominal-nominal angka yang disampaikan saat training agaknya cukup membuat mereka tertarik di KPU.
Awal-awal KPU, mereka semangat. Walaupun tunjangan yang diharapakan masih belum jelas nilainya. Hampir semuanya masih idealis. Mereka mengatakan "tidak" pada saat importir atau pengguna jasa memberikan tips atau uang terima kasih. Hingga beberapa bulan, tunjangan yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan dan apa yang diharapkan. Mereka mulai kecewa (termasuk saya). Kekecewaan itu sedikit terobati, karena KPU merupakan salah satu yang pertama menerapkan sistem tunjangan yang baru yang ada di Depkeu. Dengan selisih yang cukup lumayan, teman-teman masih memiliki rasa bangga terhadap KPU.
Hingga akhirnya tak berapa lama berselang, semua tunjangan itu telah merata ke semua pegawai se-Depkeu, down sudah sebagian besar mereka. Mereka diharuskan bekerja dengan beban kerja yang tinggi dan dengan selisih tunjangan yang kecil dengan sesama pegawai di luar KPU. Belum lagi adanya Bidang KI yang senantiasa mengawasi, dan menindak pegawai yang kedapatan masih melakukan pungli. Dua hal inilah agaknya yang banyak membuat teman-teman down.
Bekerja dalam tekanan yang tinggi bukankah memerlukan pengorbanan?. Meninggalkan keluarga tercinta, perkerjaan yang tiada henti (karena pegawai yang ada dipersedikit), dan rayuan dari para pengguna jasa. Tidakkah itu suatu pengorbanan?. Harusnya wajar dong jika tunjangan mereka lebih besar, jika dibandingkan dengan teman-teman pegawai di daerah. Belum lagi biaya hidup di Jakarta. Dengan hiruk pikuk kota yang semrawut, macet dimana-mana sehingga mudah stres, tidakkah diperlukan hiburan dan refreshing?
Banyak sudah yang dilakukan jajaran elit KPU untuk menjaga spirit dari pegawainya. Beberapa kali sudah diadakan training motivasi. Tapi apa yang terjadi? Kekecewaan yang sudah tertanam sulit untuk dilupakan. Apalagi, kesenjangan tunjangan antara pegawai dan pejabat eselon sangatlah besar. Sampai ada celetukan teman "kalo mau di KPU jadi pejabat eseleon aja, tunjangannya besar!!".
Info terakhir yang berhasil dihimpun banyak pegawai yang sudah mengajukan permohonan pindah. Tapi pasti sudah bisa ditebak apa kelanjutannya kan? Pusat tidak banyak mengabulkannya, karena apa? KARENA BANYAK PEGAWAI DARI DAERAH YANG TIDAK MAU DI TEMPATKAN DI KPU! kenapa? analisa sendirilah...
Hm...
Agaknya masalah ini masih menjadi PR besar bagi Bea Cukai. Semoga di Tahun yang baru ini, para elit yang pernah berjanji kembali terketuk hatinya untuk kembali merealisasikan apa yang sudah dijanjikannya. Dan buat temen-temen yang ngajuin pindah, semoga pimpinan mengerti dan kemudian memindahkan sesuai keinginan. Buat temen-temen masih pengin disini, semoga betah aja.
How about me?
pengennya si pindah, tapi nunggu dulu ah, barangkali tunjangan KPU jadi naek...
SEMOGA.....
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: kisah
Kembali Merenung
Rabu, 24 Desember 2008Sobat, tidakkah kau rasa bahwa usia kita semakin berkurang?.
Tak lama lagi tahun kembali berganti. Tahun 1430 Hijriah dan tahun 2008 Masehi. Usia kita memang bertambah, tapi sadarkah kita bahwasanya itu menandakan jatah umur hidup kita didunia yang sudah Allah tentukan menjadi berkurang? sadarkah kita? Bukankah Allah telah menetapkan kapan ajal kita?
Kadang kita terlupa, saat ulang tahun kita, saat akhir tahun seperti ini, kita justru bersenang-senang. Jarang sekali kita merenung. Apa yang sudah kita perbuat dan hasil apa yang sudah kita raih. Saya tidak menafikan diri bahwa saya terkadang melakukan hal yang sama, itulah manusia, yang terkadang kita sudah tau tapi kita enggan melakukannya karena godaan syaitan yang berat.
Mari kita sama-sama merenung, flashback dengan apa yang sudah kita lakukan dan kembali membuat rencana besar untuk masa mendatang.
SELAMAT TAHUN BARU, kawan....
terinspirasi dari : blog istri tercinta www.kepompongkeket.blogspot.com "tetep semangat ya sayang dan tetep menulis, kita balapan yuk.. :D, trimakasih cinta, telah menggugah kembali diriku untuk mencoba menulis" dan dari ulangtahun temenku ipank yang baik hati (besok kalo' dah selesai cuti jadi nraktir kan?, awas kalo enggak, hehehe. Maaf kepada temen-temen semua karena baru ngeblog lagi...
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: renungan
Syukur
Jumat, 22 Agustus 2008Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih
(QS. 14 : 7)
Syukur. Sebuah kata yang sangat mudah diucapkan, sangat mudah dianjurkan, tetapi merupakan suatu perbuatan yang sangat sulit dilakukan.
Kenapa perbuatan? Karena sebenarnya, syukur tidaklah hanya ucapan belaka, tapi juga harus disertai dengan perbuatan-perbuatan yang mewujudkan rasa syukur tersebut. Apa yang terungkap diatas, mungkin sudah amat sering kita dengarkan. Namun sudahkah kita laksanakan?
Tiada suatupun yang menjadi sia-sia atas apa yang sudah Allah gariskan. Semua telah Allah buat sedemikian rupa. Bahkan hal yang terkecil sekalipun yang mungkin menurut kita tidak berarti. Bernafas misalnya. Kenapa yang kita hirup adalah oksigen, kemudian bagaimana paru-paru mengolah oksigen tersebut, bagaimana kemudian jantung kita memompa sel darah, dan seterusnya. Atau ketika kita bersin, berapa juta sel yang kita keluarkan ketika bersin, kenapa harus sedemikian. Sesunggguhnya jika kita mengetahui apa dan bagaimana itu, maka tidak akan berhenti lidah kita untuk mengucap Allahu Akbar, Allah maha besar,
Tapi terkadang kita lebih menyukai melihat segala kekurangan kita. Kita selalu melihat orang lain yang lebih beruntung. Pada saat itu, kita merasa sebagai orang yang tidak beruntung, yang pada akhirnya kita melupakan begitu banyak nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita. Jika kita selalu melakukan hal itu, yakinlah bahwa kita tidak akan bahagia. Kita senantiasa dirundung kegelisahan yang mengakibatkan kita tidak bias hidup tenteram.
Yang harus kita lakukan adalah lebih banyak ‘melihat’ ke bawah, yang mana ternyata amat sangat banyak orang yang tidak seberuntung kita. Jika kita saat ini bisa makan 3 x sehari, coba lihat berapa banyak orang miskin di dunia ini. Jika kita bisa tidur nyenyak dimalam hari, coba kita lihat berapa banyak penduduk dunia yang tidak bisa merasakannya akibat bencana dan perang. Jika kita sudah bekerja, coba perhatikan berapa banyak orang yang menganggur, bersusah payah mencari rezeki bahkan dengan meminta-minta, sementara kita sudah mampu memberi.
Ah.. seandainya semua kita ungkap disini, takkan cukup tulisan ini untuk menguraikan segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita. Dan pastinya, semakin kita banyak mengetahui nikmat Allah, kita akan semakin merasa kecil dihadapanNya. Allah tidak meminta apa-apa dari kita. Ia hanya menginginkan kita untuk bersyukur. Yap!! Bersyukur!. Walaupun dengan tidak beryukurpun, itu tetap tidak akan berpengaruh terhadap kuasaNya Allah. Sebenarnya itu semua bukan untuk Allah, tapi untuk kita sendiri. Allah malah telah menjanjikan, seperti yang ada pada surat Ibrahim : 7 seperti terkutip di atas, bahwasanya Allah akan menambah nikmatnya jika kita bersyukur dan jika kita kufur maka ingatlah bahwa Allah sangat pedih.
Lantas bagaimana bersyukur itu?. Menurut saya ada banyak macam cara yang menunjukkan rasa syukur kita. Hal yang paling mudah adalah mengucap Alhamdulillah. Hal yang lainnya adalah dengan merawat apa yang sudah Allah berikan kepada kita dengan tidak merusaknya dengan perbuatan-perbuatan kita sendiri.
So… sudahkan kita bersyukur hari ini?
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: renungan
Lelah
Sabtu, 16 Agustus 2008Lelah!. Entah sudah berapa kali kata itu keluar dari mulut saya. Bukan pula hanya hari ini. Saya yakin, banyak pula diantara pembaca yang merasakan hal serupa. Bisa jadi karena pekerjaan yang terus berdatangan tanpa ada jeda untuk istirahat (atau istirahatnya tidak cukup), atau pula beban pikiran yang tak kunjung hilang.
Ada kalanya memang, kita harus berhenti sebentar, untuk melepas penat ataupun refreshing keadaan yang ada, untuk selanjutnya itu menjadi ancang-ancang kita dalam keaadan selanjutnya yang akan kita hadapi. Istirahat yang cukup dan berkualitas sudah cukup membuat diri kita kembali fresh dan segar lagi. Akan tetapi, ketika pekerjaan ataupun pikiran kita terus membuat kita lelah apa yang mesti kita lakukan?
Cintai pekerjaan kita
Yap! Kadang rasa lelah atau penat itu timbul dari dalam diri kita, yang mana kita tidak menyukai dengan pekerjaan kita selama ini. Menurut orang tua saya dulu, suatu pekerjaan yang walaupun ringan maka ia akan terasa berat manakala kita mengerjakannya dengan setengah hati. Sebaliknya, seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan sepenuh hati, dengan penuh keceriaan maka ia akan terasa ringan.
Dari hal diatas, kiranya rasa ringan dan berat pekerjaan itulah yang membuat tubuh kita menjadi lelah secara cepat atau lambat. Jika pekerjaan kita berat (terasa berat) maka pasti kita akan mudah merasa lelah. Untuk kasus seperti ini, berapa lamapun kita beristirahat maka kita akan kembali cepat lelah. Hal ini juga biasanya dipengaruhi dengan pikiran ataupun tingkat stres kita. pun lingkungan turut mempengaruhi hal ini.
Sebagai contoh adalah diri saya sendiri. Setahun yang lalu, ketika saya masih di Sulawesi, saya merasa lebih nyaman dan bisa menikmati hidup dengan jarang mengeluh lelah karena pekerjaan tidak terlalu banyak, suasanya daerah yang cukup nyaman dan dukungan teman serta keluarga dekat. Namun ketika kini, ketika saya dipindahkan ke Jakarta, dimana tingkat pekerjaan naik tajam, tingkat stres juga tinggi ditambah keluarga yang masih di luar jawa, hmmmm... sepertinya keluhan lelah, capek, stres, selalu mendampingi saya. Walau saya telah mencoba untuk menikmati apa yang ada, namun kenyataanya, saya masih belum bisa menikmatinya.
Namun saya yakin bahwa Allah SWT sudah mengatur rencana kehidupan saya. Sekarang yang bisa saya lakukan adalah terus menjalani apa yang ada dengan apa adanya sambil mencoba menikmati apa yang ada dan mencari hikmah dari apa yang terjadi.
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: kisah
Be Ur Self
Rabu, 13 Agustus 2008Allah menciptakan dan menghidupkan setiap makhluknya dengan segala sesuatu yang unik. Tak satupun dari kita sama, bahkan orang kembar sekalipun! Subhanallah...
Setiap manusia memiliki minimal satu sisi ataupun bagian yang tidak bisa ditemukan pada orang lain. Kalaupun sama pada bagian tersebut maka akan berbeda pada sisi lainnya. Itulah "mungkin" (karena aku gak tau pasti sebab turunnya ayat ini) Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dengan lainnya.
Ada hal menarik dari saling kenal ini, bahwa dengan kita saling mengenal maka kita akan tau tentang orang lain dan lingkungan diluar kita dan tanpa kita sadarai kita telah menjadi pelengkap dalam kehidupan ini. Coba kita bayangkan, seandainya Allah mencipatakan kita semua sama, tanpa ada keunikan pada tiap-tiap makhluk, maka tidak akan dinamika hidup yang bisa kita nikmati. Semua mungkin akan merasa bosan karena apa yang ada pada orang lain sama adanya dengan yang ia punyai.
Kembali pada sisi keunikan manusia, kadang atau bahkan banyak dari kita yang merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki. Banyak dari kita justru menyoroti kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita kemudian membandingkannya dengan kelebihan yang dimiliki orang lain, yang pada akhirnya menginginkan seperti apa yang dimiliki orang lain tersebut. Contoh termudah dari kasus ini adalah banyak dari kita meniru gaya baik itu model baju, tatanan rambut sampe gaya hidup sehari-hari dari orang lain (misalnya artis maupun selebriti lainnya), yang kadang malah membuat "tidak pantas" bagi diri kita.
Menurutku, yang terbaik adalah menjadi diri kita sendiri. Dengan segala sesuatu yang telah Allah ciptakan untuk kita, pastinya semua itu takkan sia-sia. Sebanyak apapun kekurangan yang ada pada diri kita, saya yakin bahwa kita masih memiliki potensi, memiliki kelebihan, yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Sekarang tinggal bagaimana kita, bisakah kita memanfaatkan kelebihan yang ada. Kekurangan diri bukan untuk disesali, diratapi atau dibenci. Kekurangan diri haruslah disyukuri, karena dibalik kekurangan itu Allah telah menciptakan sesuatu yang indah untuk diri kita, tinggal bagaimana kita bisa mencari, mengolah dan memanfaatkan kelebihan dan rahmat apa yang Allah berikan untuk kita.
So... jangan lagi kita menjadi orang lain, tapi JADILAH DIRIMU SENDIRI
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: renungan
.: Tentang Diri :. Sebuah Renungan
Blog ini adalah blog kedua yang kubuat. Bukan karena aku rajin nge-blog, tapi tak lain karena yang pertama sudah gak pernah tak buka jadi aku lupa account apa yang kupake, :), miris banget yakz?....
Akhirnya, karena aku cuma tau alamat blog-ku yang sebelumnya, akhirnya ada beberapa bagian yang memang aku copy dari blog sebelumnya. Mudah-mudahan ini bisa bertahan lama (hihihi, kayak batere aja ya...). Blog ini sengaja dibuat utnuk menampung segala jenis tulisan, kegiatan, foto, pokoknya apa aja yang ingin aku ungkapkan dan aku share kepada para netter semua.
Lantas kenapa harus .: Tentang Diri :.??
Tentang diri adalah sebuah judul album indie miliknya group nasyid SOHIB 4 All (dulu masih bernama SOHIB = Sound Of Heart In Bitung = dimana saya adalah salah satu personilnya), yang didalamnya terdapat sebuah nasyid dengan judul yang sama yang diciptakan oleh keybordist pertamanya, mas Heru Pramudiyanto yang sekarang dah pindah ke Sidoarjo bersama keluarganya.
Group Nasyid SOHIB yang beranggotakan Saeful A. Tauladani, Syariful Lailiddien, A. Mubarak A, Muh. Husyari (Formasi 2008) -->> Lebih detailnya nanti akan dibahas tersendiri (soalnya kalau dijabarkan disini kepanjangan).
Lirik nasyid .: Tentang Diri :. kurang lebih bercerita tentang pencarian makna hidup sesorang yang akhirnya menemukan cinta abadi tehadap Rabb-nya.. dan seperti itulah yang ingin aku capai... semoga...
Nah itu dia kenapa blog ini kemudian kuberikan nama .: Tentang Diri :.
Diposting oleh .: Tentang Diri :. 0 komentar
Label: renungan